Rabu, 04 Agustus 2010

KEPRIBADIAN


Kepribadian menurut Allport adalah:
…sebuah organisasi dinamis di dalam sistem psikis dan fisik individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.
Sedangkan menurut Pervin dan John: kepribadian mewakili karakteristik individu yang terdiri dari pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang konsisten.
Dalam teori-teori kepribadian, kepribadian terdiri dari antara lain trait dan tipe (type). Trait sendiri dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Trait menggambarkan konsistensi respon individu dalam situasi yang berbeda-beda. Sedangkan tipe adalah pengelompokan bermacam-macam trait. Dibandingkan dengan konsep trait, tipe memiliki tingkat regularity dan generality yang lebih besar dari pada trait. Trait merupakan disposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti yang tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi. Teori trait merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu: Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain, sehingga: Trait relatif stabil dari waktu ke waktu, Trait konsisten dari situasi ke situasi, Trait merupakan kecenderungan dasar yang menetap selama kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena: ada proses adaptif, adanya perbedaan kekuatan, dan kombinasi dari trait yang ada.
Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).
Teori trait dimunculkan pertama kalinya oleh Gordon W. Allport. Selain Allport, terdapat dua orang ahli lain yang mengembangkan teori ini. Mereka adalah Raymond B. Cattell dan Hans J. Eysenck.
Allport mengenalkan istilah central trait, yaitu kumpulan kata-kata yang biasanya digunakan oleh orang untuk mendeskripsikan individu. Central trait dipercaya sebagai jendela menuju kepribadian seseorang. Menurut Allport, unit dasar dari kepribadian adalah trait yang keberadaannya bersumber pada sistem saraf. Allport percaya bahwa trait menyatukan dan mengintegrasikan perilaku seseorang dengan mengakibatkan seseorang melakukan pendekatan yang serupa (baik tujuan ataupun rencananya) terhadap situasi-situasi yang berbeda. Walaupun demikian, dua orang yang memiliki trait yang sama tidak selalu menampilkan tindakan yang sama. Mereka dapat mengekspresikan trait mereka dengan cara yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat masing-masing individu menjadi pribadi yang unik. Oleh sebab itu Allport percaya bahwa individu hanya dapat dipahami secara parsial jika menggunakan tes-tes yang menggunakan norma kelompok.
Sama seperti Allport, Cattell juga percaya bahwa kata-kata yang digunakan seseorang untuk menggambarkan dirinya dan orang lain adalah petunjuk penting kepada struktur kepribadian. Perbedaan mendasar antara Allport dan Cattell adalah bahwa Cattell percaya kepribadian dapat digeneralisir. Yang harus dilakukan adalah dengan mencari trait dasar atau utama dari ribuan trait yang ada. Menurut Allport, faktor genetik dan lingkungan sama-sama berpengaruh dalam menentukan perilaku manusia. Bukan hanya faktor keturunan sendiri atau faktor lingkungan sendiri yang menentukan bagaimana kepribadian terbentuk, melainkan melalui pengaruh resiprokal faktor keturunan dan lingkungan yang memunculkan karakteristik kepribadian.
Sehubungan dengan adanya peran genetik dalam pembentukan kepribadian, terdapat 4 pemahaman penting yang perlu diperhatikan:
1.   Meskipun faktor genetik mempunyai peran penting terhadap perkembangan kepribadian, faktor non-genetik tetap mempunyai peranan bagi variasi kepribadian,
2.   Meskipun faktor genetik merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi lingkungan, faktor non-genetik adalah faktor yang paling bertanggungjawab akan perbedaan lingkungan pada orang-orang,
3. Pengalaman-pengalaman dalam keluarga adalah hal yang penting meskipun lingkungan keluarga berbeda bagi setiap anak sehubungan dengan jenis kelamin anak, urutan kelahiran, atau kejadian unik dalam kehidupan keluarga pada tiap anak.
4.   Meski terdapat kontribusi genetik yang kuat terhadap trait kepribadian, tidak berarti bahwa trait itu tetap atau tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan.


Teori Utama
Meskipun ada banyak sekali teori tentang kepribadian, tetapi umumnya teori-teori tersebut dapat ditelusuri asal gagasannya ke beberapa teori besar (grand theory). Perkembangan masing-masing teori besar itu tidak lepas dari sejarah perkembangan psikologi itu sendiri beserta para tokohnya.
a. Filsafat pragmatisme Amerika
Filsafat pragmatisme adalah sesuatu yang asli berasal dari AS. Sistem filsafat ini lebih menekankan hasil daripada metode, menerima beraneka ragam metode dan pendekatan untuk menghasilkan pengetahuan. Iklim pragmatis di AS lebih menekankan pada bagaimana manusia menjalani proses-prosesnya dan tidak terlalu menekankan pada apa atau siapakah manusia itu. Dicetuskan oleh kelompok orang muda yang upper class dari Boston, a.l. William James Konsep utama : perilaku manusia digerakkan oleh belief yang dimiliki. Belief berkembang menurut prinsip evolusi “survival of the fittest”, yang dipertahankan adalah yang paling dibutuhkan manusia. Melalui proses inilah terbentuk perilaku manusia dan habit.
b. Teori Evolusi Darwin
Pada saat manusia berinteraksi dengan lingkungannya, ia harus beradaptasi. Proses adaptasi inilah yang menyebabkan terjadinya seleksi alam, baik dalam artian kelompok species yang unggul (Darwin) maupun dalam arti karakteristik dari species yang bertahan, misalnya anggota tubuh (Spencer). Proses adaptasi sifatnya spesifik, hanya berlaku untuk lingkungan tertentu. Suatu kelompok species yang well-adapted dalam suatu lingkungan bisa saja tidak dapat beradaptasi pada lingkungan lain. Sebagai seorang dualist yang percaya pada pemisahan mind-body, Darwin mengaplikasikan juga pandangannya ini kepada perkembangan fungsi mental makhluk hidup. Kelompok makhluk hidup yang paling sukses dalam beradaptasi dengan lingkungannya adalah mereka yang memiliki fungsi mental paling tinggi, dalam hal ini adalah manusia. Pentingnya adaptasi ini menyebabkan aliran fungsionalisme sering dipandang sebagai ‘psychology of adaptation’.
c. Sir Francis Galton
Sepupu Darwin yang banyak menerapkan teori Darwin ke dalam bidang  psikologi. Menekankan pada aspek hereditary (bawaan) sebagai penentu kualitas fungsi mental manusia. Lingkungan tidak berperan. Berdasarkan studinya pada keluarga-keluarga terpandang, ia menyimpulkan bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang diturunkan. Sejalan dengan pandangan teori Darwin, ia juga percaya akan adanya variasi yang konstan dalam fungsi mental, yang dikenal sebagai individual difference.
            Adanya perbedaan individual ini membawanya kepada pemikiran perlunya pengukuran akan perbedaan fungsi mental manusia. Hal ini dapat dilakukan melalui statistic dan teknik pengetesan sebagai pengukuran kapasitas mental manusia. Kecerdasan/inteligensi manusia dapat diukur melalui ketajaman penginderaannya. Mereka yang memiliki penginderaan yang tajam adalah mereka yang cerdas.Selanjutnya hasil pengukuran ini harus dapat dituangkan ke dalam penggolongan manusia sesuai tingkat kecerdasannya. Hal ini dpat dilakukan melalui teknik statistik psikologi. Galton juga percaya bahwa kelompok ras yang berbeda dari manusia bertahan di bagian yang berbeda-beda di bumi ini sebagai hasil dari adaptasi terhadap lingkungan mereka.

Bersambung....

Selasa, 03 Agustus 2010

Kemiskinan di Perkotaan



Masalah kemiskinan di Indonesia saat ini dirasakan sudah sangat mendesak untuk ditangani, khususnya di wilayah perkotaan. Salah satu ciri umum dari kondisi masyarakat yang miskin adalah tidak memiliki sarana dan prasarana dasar perumahan dan permukiman yang memadai, kualitas lingkungan yang kumuh, tidak layak huni. Kemiskinan merupakan persoalan struktural dan multidimensional, mencakup politik, sosial, ekonomi, aset dan lain-lain. Sehingga secara umum “Masyarakat Miskin” sebagai suatu kondisi masyarakat yang berada dalam situasi kerentanan, ketidak berdayaan, keterisolasian, dan ketidak mampuan untuk menyampaikan aspirasinya. Situasi ini menyebabkan mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan minimal kehidupannya secara layak (manusiawi).

Mengingat persoalan yang struktural dan multi dimensi tersebut, maka upaya-upaya penanggulangan kemiskinan seharusnya diletakkan dan dipercayakan kepada masyarakat itu sendiri, dengan dukungan fasilitasi dari pemerintah maupun pihak swasta dunia usaha dan organisasi masyarakat sipil lainnya. Sehingga penanggulangan kemiskinan akan menjadi suatu gerakan masyarakat yang lebih menjamin potensi kemandirian dan keberlanjutan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan tersebut, dibandingkan bila dilakukan oleh pemerintah atau pihak di luar masyarakat.
Upaya penanganan kemiskinan yang dilakukan pemerintah telah menjangkau berbagai pelosok tanah air. Outputnya, secara kuantitatif menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini terlihat pada data statistik yang menunjukkan, ketika dimulainya pembangunan lima tahunan (PELITA) pada tahun 1969, kurang lebih 60% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan, dan kemudian 1996 menjadi sekitar 12% dari total penduduk Indonesia.

Tetapi ketika badai krisis ekonomi pada tahun 1997 telah mengecilkan pencapaian prestasi pembangunan nasional pada umumnya dan penurunan angka kemiskinan yang mencapai 40% dari total penduduk Indonesia. Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah penduduk miskin mencapai 17,2% (37,4 juta jiwa) dari total penduduk Indonesia yang mencapai 214 juta jiwa (Feb.2003). Hingga 2004, jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 36,1 juta jiwa atau setara dengan 16,66% dari jumlah penduduk Indonesia. Daerah padat penduduk seperti di Jawa Tengah, Daerah Istemewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat termasuk yang angka kemiskinannya tinggi. Karena jumlah penduduknya padat maka secara absolut jumlah penduduk miskinnya juga tinggi. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2005 ini, 62 juta jiwa dan di Jawa Tengah, 3,17 Juta keluarga dinyatakan miskin. Jumlah penduduk miskin yang ada di Kota Semarang pada tahun 2004 berjumlah 79 ribu jiwa.

Pelajaran berharga dan mungkin sebagai penyadaran bagi para penyelenggara negara, bahwa kebijakan dalam melakukan pembangunan nasional pada umumnya, dan program penanganan kemiskinan pada khususnya yang menempatkan warga miskin sebagai obyek pembangunan perlu koreksi. Artinya, bahwa dalam upaya penanganan kemiskinan perlu melibatkan penduduk miskin sebagai subyek pembangunan dan diharapkan penanganan kemiskinan nantinya dapat dilakukan sendiri.

Orientasi berbagai program penanggulangan kemiskinan yang hanya menitikberatkan pada salah satu dimensi dari gejala-gejala kemiskinan ini, pada dasarnya mencerminkan pendekatan program yang bersifat parsial, sektoral, charity, dan tidak menyentuh akar penyebab kemiskinan itu sendiri. Akibatnya program yang dimaksud tidak mampu menumbuhkan kemandirian masyarakat yang pada akhirnya tidak akan mampu mewujudkan aspek keberlanjutan dari program penanggulangan kemiskinan itu.

Pemahaman mengenai masalah kemiskinan telah menyadarkan berbagai pihak bahwa pendekatan dan cara yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu diperbaiki, yaitu ke arah perubahan perilaku/sikap dan cara pandang masyarakat yang senantiasa berlandaskan pada nilai-nilai universal kemanusiaan (moral), prinsip-prinsip kemasyarakatan (good governance) dan prinsip-prinsip pembangunan keberlanjutan.
Di samping itu, program selama ini tidak memperlihatkan integrasi dengan kebijakan-kebijakan makro pembangunan. Itu karena pendekatan program tidak berangkat dari revisi atas kebijakan pembangunan. Dibutuhkan banyak penyempurnaan yang mampu mendorong dan melembagakan peran masyarakat lokal dengan lebih menekankan partisipasi dan manajemen masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan. Diharapkan pengembangan proyek ini mampu melandasi tumbuh berkembangnya “gerakan masyarakat” dan “gerakan kemitraan” penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan kelompok lainnya.

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang selalu dihadapi oleh manusia. Kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin.


Kemiskinan secara umum dapat digolongkan dalam 3 pengertian, yaitu:
  • Kemiskinan Natural (Alamiah). Keadaan miskin karena dari asalnya memang miskin. Kelompok masyarakat miskin ini tidak memiliki sumber daya yang memadai, baik SDA, SDM maupun sumber daya pembangunan lainnya.
  • Kemiskinan Struktural. Kemiskinan yang disebabkan oleh hasil pembangunan yang belum seimbang.
  • Kemiskinan Kultural. Mengacu pada sikap hidup seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh gaya hidup, kebiasaan hidup dan budaya.

Masalah kemiskinan di Indonesia mendapat perhatian yang besar dan secara nasional. Kemiskinan mulai dekenal dengan istilah kemiskinan struktural. Seorang tokoh sosiologi Indonesia, Profesor Selo Soemardjan mendefinisikan kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat, karena struktur sosial masyarakat itu, tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Sebuah pernyataan yang kurang tepat, karena dalam kenyataannya banyak orang miskin yang ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan itu, tetapi tidak sepenuhnya menikmati hasil penggunaannya apalagi memilikinya.

Pengertian kemiskinan ada 2, yaitu:
  1. Kemiskinan relatif: dinyatakan dengan berapa persen dari pendapatan nasional yang diterima oleh kelompok penduduk dengan kelas pendapatan tertentu dibanding dengan proporsi pendapatan nasional yang diterima oleh kelompok penduduk dengan kelas pendapatan lainnya.
  2. Kemiskinan Absolute: suatu keadaan dimana tingkat pendapatan absolute dari satu orang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, permukiman, kesehatan dan pendidikan.
Sekurang-kurangnya ada 6 macam kemiskinan yang perlu dipahami oleh pihak-pihak yang menaruh perhatian terhadap penanganan kemiskinan, yaitu:
  1. Kemiskinan subsistensi, penghasilan rendah, perumahan buruk, fasilitas air bersih mahal.
  2. Kemiskinan perlindungan, lingkungan buruk (sanitasi, sarana pembuangan sampah, polusi), kondisi kerja buruk, tidak ada jaminan atas hak pemilikan tanah.
  3. Kemiskinan pemahaman, kualitas pendidikan formal buruk, terbatasnya akses atas informasi yang menyebabkan terbatasnya kesadaran akan hak, kemampuan dan potensi untuk mengupayakan perubahan.
  4. Kemiskinan partisipasi, tidak ada akses dan kontrol atas proses pengambilan keputusan yang menyangkut nasib diri dan komunitas.
  5. Kemiskinan identitas, terbatasnya perbauran antara kelompok sosial, terfragmentasi.
  6. Kemiskinan kebebasan, stress, rasa tidak berdaya, tidak aman baik ditingkat pribadi maupun komunitas.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Abdulkahar Badjuri dan Teguh Yuwono, (2002), “Administrasi Kebijakan Publik”, Universitas Diponegoro, Semarang.
  2. Charles Adams, (1993), “Pertumbuhan Penduduk dan Penyebaran Kota”, Dalam Kumpulan esai yang berjudul Kemiskinan Perkotaan, Disunting oleh Parsudi Suparlan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  3. Fraskho Maria kasih, “Praktek dan Teori Pembangunan Ketergantungan”, Analisis CSIS No. 9, 2000, Halaman 62.
  4. Hadiwinata, Bob S. (2003), “The Politics of NGOs in Indonesia: Developing Democracyand Managing a Movement”, New York: Routledge Curzon.
  5. Hans-Dieter, Evers, (1993), “Produksi Substansi dan Masa Apung Jakarta”, Dalam Kumpulan esai yang berjudul Kemiskinan Perkotaan, Disunting oleh Parsudi Suparlan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  6. Hartuti Purnaweni, “Diktat Kebijakan Publik”; Suntingan dari buku “Implemetating Public Policy“ oleh George C. Edward III, Undip Semarang.
  7. Irfan Islamy, (1998), “Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara”, Jakarta: Bina Aksara.
  8. Mazmanian, Dennis, (1975), “Implementation and Public Policy”, 1975.
  9. Moeljarto, (1997). “Politik Pembangunan Sebuah Analisis Konsep, Arah, dan Strategi”. Yogyakarta : Tiara Wacana.
  10. Nugroho, Riant. (2003). “Kebijakan Publik: Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi”. Jakarta: PT. Elek Media Komputindo.
  1. MeuthiaGanie-Rochman, (2002), “AnUphill Struggle: Advocacy NGOs Under Soeharto’s NewOrder”, Cetakan I, Jakarta: Penerbit LabSosio FISIP UI.
  2. Nashir, H. (1999). “Tragedi Sosial dan Kerapuhan Sistem Orde Baru Dalam Kedaulatan Rakyat”, Surat Kabar Harian, Jumat 26 maret.
  3. Santoso Sastroputo, (1998), “Partisipasi, Komunitas, Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional”, Almuni, Bandung.
  4. Soejadi. (2001). “Pemberdayaan Masyarakat dan Upaya Pembebasan Kemiskinan”. Philosophy Press: Yogyakarta.
  5. Soejatmoko. (1989). “Dimensi Manusia dalam Pembangunan”. LPES. Jakarta.
  6. Soetrisno. (1998). “Memberdayakan Masyarakat Pedesaan”. Lembaga Ekologi Busdya. Sodoarjo.
  7. Suparlan, P. (1995). “Kemiskinan di Perkotaan“. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
  8. Sumarjan, Selo. (1990). “Aspek Sosial Budaya Pembangunan Desa Dalam Masyarakat”. Jurnal Sosiologi Vol. II. Jakarta.
  9. Sutyastie Soemitro Reni dan Pijono Tjiptoherijanto, (2002), “Kemiskinan dan Ketidakmerataan Di Indonesia”, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
  10. Wignyosoebroto, S., dkk, (1995). “Perangkap Kemiskinan Problem dan Strategi Pengentasannya”. Airlangga University Press. Surabaya. 


Kamis, 29 Juli 2010

11 Unjuk Rasa Banjiri Ibukota Hari Ini

11 Unjuk Rasa Banjiri Ibukota Hari Ini: "JAKARTA - SURYA- Warna-warni kegiatan warga ibukota Jakarta akan dipenuhi dengan agenda unjuk rasa. Berdasarkan TMC Polda Metro Jaya, 11 unjuk rasa akan mengepung Jakarta.
Untuk warga yang ingin melintas di jalan-jalan tersebut, hendaknya mencari jalan alternatif mencegah kemacetan. Berikut info Kegiatan Warga Jakarta Rabu, 28 Juli 2010:
1. Tanggal : 28-07-2010
Waktu : 08.30 s/d 12.00
Tempat Kejadian [...]"