Selasa, 27 Juli 2010

Sosialisasi Proses Pembentukan Kepribadian


Sambungan Kepribadian...
Peter Berger mengatakan bahwa hewan hanya hidup dengan naluri, namun manusia hidup dengan naluri dan berpikir. Karena manusia dapat berpikir, manusia dapat mentransferkan pengalaman dan pengetahuannya kepada orang lain atau generasi berikutnya. Manusia dapat menciptakan kebudayaan. Kehidupan ekonomi, kekeluargaan, pendidikan, agama, politik, kebudayaan, dapat dipelajari oleh setiap  anggota baru melalui suatu proses yang disebut sosialisasi. Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai ”a process by which a child learns to be a participant member of society” (suatu proses melalui mana seorang anak belajar menjadi seseorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat), (Horton, 1987). Melalui sosialisasi, masyarakat dimasukan ke dalam manusia. Yang dipelajari dalam sosialisasi adalah peranan-peranan  (roles). Oleh sebab itu teori sosialisasi, oleh sejumlah ahli sosiologi, disebut teori mengenai peran (role theory).
a.      Pemikiran George Herbert Mead
Dalam bukunya mind, self and society (1972) George Herbert Mead menguraikan tahap pengembangan diri (self) manusia, terdiri dari tiga tahap: play, stage, game stage, dan generalized other. Anak yang baru lahir belum mempunyai diri (self).
Pada tahap play stage, seorang anak kecil mulai belajar mengambil peran orang tuanya atau peran orang dewasa lain dengan siapa ia sering berinteraksi. Kita sering melihat anak kecil yang bermain berperan sebagai ayah, menggendong atau memasak seperti ibu, berperan sebagai kakak, nenek, polisi, menyuntik atau memeriksa kesehatan temannya, dll., namun mereka sendiri tidak memahami mengapa peran itu dilakukan.
Pada tahap game stage, seorang anak sudah mengetahui peranan yang harus dijalankannya dan juga mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi. Misalnya, seorang anak berperan sebagai penjaga gawang dalam permainan sepak bola, maka ia sudah mengetahui perannya menjaga agar bola jangan masuk dan mengetahui peran wasit, teman-teman bermain dan lawannya.
Pada tahap generalized other, seseorang telah mampu berinteraksi dengan orang lain di dalam masyarakat karena telah memahami perannya sendiri dan peran orang lain dengan siapa ia berinteraksi. Pada tahap ini seseorang disebut telah mempunyai diri (self). Orang-orang penting yang ditiru oleh anak dalam proses sosialisasi, oleh Mead, disebut significant other. Jadi diri (self) seorang terbentuk, menurut pendapat Mead, melalui interaksi dengan orang lain.
b.      Pemikiran Charles H. Cooley
Charles H. Cooley menekankan pada peranan interaksi dalam proses sosialisasi. Menurut Cooley, konsep diri (self-concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain, yang oleh Cooley diberi nama looking-glass self. Nama ini diberikan Cooley melihat analogi antara pembentukan diri seseorang dengan perilaku orang yang sedang bercermin. Kalau cermin memantulkan apa yang terdapat di depannya, maka menurutnya diri seseorang pun memantulkan apa yang dirasakannya sebagai tanggapan masyarakat terhadapnya. (Jhonson, (1986)
Looking glass self terbentuk melalui tiga tahap. Tahap pertama, seseorang mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya. Tahap kedua, seseorang mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya. Tahap ketiga, seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakan sebagai penilaian orang lain terhadapnya.  Contoh, seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai rendah (D dan E) dalam satu mata kuliah, ia merasa bahwa dosen di jurusannya menganggapnya bodoh. Karena perasaan ini, maka ia merasa kurang dihargai para dosennya. Karena merasa kurang dihargai maka ia menjadi murung. Disini perasaan mengenai penilaian orang lain terhadap dirinya menentukan penilaiannya terhadap diri sendiri.
Kepribadian dan Kebudayaan
Cakupan masyarakat menunjuk pada sejumlah manusia, sedangkan kebudayaan menunjuk pada pola-pola perilaku yang khas dari masyarakat tersebut. Kepribadian mewujudkan perilaku Manusia. Perilaku dapat dibedakan dengan kepribadiannya, karena kepribadian merupakan latarbelakang  perilaku  yang  ada  dalam diri individu.
Menurut Theodore M. Newcomb, kepribadian adalah : organisasi sikap-sikap (Predisposition) yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku. Artinya kepribadian menunjuk pada organisasi yang berbuat, mengetahui, berfikir dan merasa. Atau kombinasi antara faktor biologis, psikologis dan sosiologis.

Sumber bacaan :
  1. Cooper, C.L., & Payne, R. (1991). Personality and stress: Individual differences in the stress process. England: John Wiley & Sons Ltd.
  2. Feist, J. & Feist, G. J. (2006). Theories of personality. (Ed. Ke-6). New York: McGraw-Hill Inc.
  3. Hjelle, L.A., & Ziegler, D.J. (1992). Personality theories. Singapore: McGraw Hill Book.
  4. Narwoko, Dwi, J. Dan Suyanto, Bagong, 2004. Sosiologi :Teks Pengantar dan Terapan, Edisi Pertama. Prenada Media Kencana, Jakarta.
  5. Harton, Paul & S. L. Hunt, 1987. Sosiologi Jilid I & II. CV. Erlangga, Jakarta.
  6. Soekanto S.,1986. Pengantar Sosiologi Kelompok. CV. Remadja Karya, Bandung.
  7. McCrae, R.R., & Allik, J. (2002). The Five Factor Model of personality across cultures. New York: Kluwer Academic/ Plenum Publishers.
  8. Pervin, L. A. (1993). Personality: theory and research. (Ed. ke-6). Canada: John Wiley & Sons.
  9. Pervin, L. A. (1996). The Science of personality. USA: John Wiley & Sons.
  10. Linzey & Hall. (1993). Theories of personality. (4th ed). New York: John Wiley & Sons.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar